Beranda » Merasa Benar Sendiri Timbulkan Intoleransi

Merasa Benar Sendiri Timbulkan Intoleransi

Spread the love dnnmmedia

Dr. Mustain Baladan, M.Pd.I menyampaikan sambutannya saat membuka Training untuk para Guru yang digelar Komunitas Senin Brang Wetan Sidoarjo.

DNN, MOJOKERTO – Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Sidoarjo, Mustain Baladan mengatakan ada tiga hal yang menjadi penyebab timbulnya kelompok-kelompok intoleransi di Indonesia. 
“Yang pertama, mereka merasa dirinya benar dan orang lain salah. Kedua, menjalankan agama hanya secara tekstual saja, bukan kontekstual. Hal ini bukan hanya di kelompok muslim saja melainkan juga di penganut agama lain, meskipun yang banyak terlihat dari kelompok muslim,” sebutnya. 
Dan yang ketiga adalah kurang pas memahami sunnah sehingga mengidentikkan budaya Arab dengan ajaran Islam. Pernyataan itu disampaikan saat membuka acara pelatihan untuk guru-guru Sidoarjo yang diselenggarakan di Hotel Royal Trawas, Mojokerto, Rabu (22/06/2022) siang tadi. 
Acara ini diselenggarakan Komunitas Seni Budaya BrangWetan dengan tema ‘Training Pembuatan Konten dan Media Pembelajaran Berbasis Toleransi Bagi Guru Mata Pelajaran dan Guru/Pembimbing Esktrakurikuler’ itu berlangsung hingga besok siang 
Selanjutnya Mustain mengaku gelisah melihat kondisi masyarakat selama ini, karena kalau ada orang kumpul-kumpul sudah cenderung melakukan unjuk rasa.  Kalimat takbir malah digunakan untuk menyerang teman sendiri yang dianggap berlawanan. Sudah terjadi pergeseran nilai, sehingga menjurus ke arah intoleransi. 
Padahal, kata Mustain,  banyak negara di Timur Tengah yang hancur karena tidak mampu menerjemahkan agama dalam wawasan kebangsaan. “Akibatnya perang terus. Tidak sempat membangun. Bahkan di antara mereka terusir dari negaranya sendiri. Contohnya Afganistan,” jelas mantan Kepala Dinas Pendidikan Sidoarjo itu. 
Karena itu menurut Mustain, peran ulama atau pemuka agama sangat penting untuk menempatkan agama secara kontekstual. Dicontohkan, sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, KH. Wahab Hasbullah menciptakan lagu Hubbul Wathon Minal Iman, yang kemudian menjadi semacam lagu wajib bagi kalangan Nahdlatul Ulama. 
Pesan ini menunjukkan bahwa ulama NU sudah menegaskan bahwa negara ini harus kita amankan. Bahkan, Mustain pernah meminta warga Huriah Kristen Batak Protestan (HKBP) menggubah lagu tersebut dengan aransemen yang menarik untuk dinyanyikan di Pura. 
Inilah contoh toleransi yang mengedepankan kebangsaan di atas perbedaan agama. Sebagaimana pesan KH Said Agil, bahwa agama tetap dinomorsatukan tetapi budaya diutamakan, sehingga semua berjalan dengan baik, tidak akan saling menyalahkan dan saling menjatuhkan. 
“Kesemuanya ini harus kita pikirkan agar bangsa ini tidak hancur sebagaimana negara-negara di Timur Tengah, atau seperti Uni Sovyet. Sehingga ke depan Indonesia menjadi negara yang Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur (Negeri yang baik dengan Rabb (Tuhan) Yang Maha Pengampun),” pungkasnya.
Sementara itu, Harmoni Senior Technical Advisor, Umelto Labetubun, dalam kesempatan berikutnya menyebutkan tujuan kegiatan ini adalah bagaimana sekolah menjadi magnet bagi toleransi. Karena itu perlu pembatasan penggunaan kata-kata yang menimbulkan konotasi negatif atau rejection, misalnya radikalisme, intoleransi, dan lain-lain. 
Lembaga tersebut pernah bekerjasama dengan 93 sekolah di Sragen yang mengusung tema “membangun rasa percaya diri”. Kesimpulan yang dihasilkan dari kegiatan itu, masyarakat yang sudah memiliki rasa percaya diri yang tinggi, tidak gampang diajak nakal oleh kelompok manapun. 
Menurut Umelto atau yang lebih akrab dengan panggilan Alto, ada tiga N yang membuat seseorang menjadi pelaku teror, yaitu Needs (kebutuhan), Narasi (teks), dan Networking (jaringan). 
Mereka yang menjadi teroris karena kebutuhannya (needs) tidak tercapai. Dia merasa teralienasi di masyarakat. Merasa dirinya tidak signifikan, dianggap tidak ada di masyarakat. Hal ini tidak berhubungan dengan satu faktor, misalnya ekonomi. Karena terbukti para pelaku teror selama ini sebagian justru berasal dari kalangan mampu dan inteletual. Kebutuhan ini juga menyangkut respon dari masyarakat yang berkurang atau hilang terhadap apa yang disuarakan melalui media sosial. 
Untuk mencukupi kebutuhan itu mereka membutuhkan teks atau narasi untuk menguatkan pembiasaan di masyarakat. Mereka yang melakukan teror selalu berada dalam jaringan (network), baik jaringan nyata di antara teman-temannya maupun jaringan di dunia maya atau media sosial. 
Karena itu dalam training ini diajarkan seperti apa pesan-pesan yang akan dibuat agar orang yang membacanya sudah merasa signifikan, sehingga kebutuhan untuk mencari narasi yang membenarkan untuk melakukan tindakan-tindakan intoleran menjadi minimum. 
Seperti halnya anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian di rumahnya akan cenderung menjadi anak nakal di sekolah untuk menjadi signifikan di antara teman-temannya. “Tidak ada gunanya perang ayat, tetapi yang penting adalah perang pemasaran, apakah yang kita ajarkan mampu diikuti oleh siswa ataukah mereka justru lebih tertarik dengan yang diajarkan mereka,” katanya.
Sementara Ketua Komunitas Seni Budaya BrangWetan, Henri Nurcahyo, memaparkan bahwa persoalan toleransi bukan hal yang baru. Toleransi adalah suatu hal yang sudah diketahui sejak lama dalam keseharian namun kadang-kadang tidak disadari. 
Maka pelatihan soal toleransi bukanlah mengajarkan sesuatu yang sama sekali baru melainkan bagaimana memahami apa yang sudah kita ketahui untuk disadari, dan yang paling penting adalah eksekusi. 
Dalam training ini, Komunitas Seni Brang Wetan juga menghadirkan beberapa narasumber lainnya. Diantaranya Dr. Herni Ferisia dari UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr Hj. Sutiah, M.Pd dari UIN MALIKI Malang, dan Dewantoro dari Harmoni Jakarta.
Acara yang menjadi bagian dari rangkaian program ‘Cinta Budaya Cinta Tanah Air Tahap Dua’ yang digagas BrangWetan itu diikuti 25 peserta dari SMAN 1 Gedangan, MAN Nurul Huda Sedati serta dari SMPN 1 Waru, SMPN 1 Taman dan SMPN 1 Gedangan.(hans/pram)

Spread the love dnnmmedia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *